Belajar Bahasa Arab, Kaedah Atau Percakapan Duluan?

 الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، والصلاة والسلام على النبي العربي المبعوث للناس أجمعين، وبعد:

Bahasa Arab di zaman modern ini merupakan bahasa yang sering dipelajari di berbagai belahan dunia, khususnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ummat Islam memberikan perhatian besar terhadap pembelajaran bahasa Arab agar dapat memahami dan mengamalkan syari’at Islam dengan semestinya, sebagaimana yang diketahui bahwa bahasa Arab merupakan kunci atau alat untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah serta kitab-kitab para ulama.

Qawaid atau Hiwar Dulu

Sebagian penuntut ilmu sering kali bingung ketika hendak mempelajari bahasa Arab, apa yang harus dipelajari terlebih dahulu?, apakah belajar kaedah nahwu dan shorof terlebih dahulu, atau menghafal mufradat (kosakata), ataukah langsung belajar hiwar (percakapan) bahasa Arab?. Nah, pada postingan kali ini lisanaraby.id akan sedikit menjelaskan tentang apa yang seharusnya dipelajari terlebih dahulu oleh penuntut ilmu dari bahasa Arab terkhususnya untuk orang non Arab, dan kita akan bandingkan antara orang yang belajar ilmu nahwu dan shorof duluan dan orang yang mempelajari percakapan bahasa Arab terlebih dahulu.

Biasanya ketika murid langsung fokus mempelajari kaedah bahasa Arab, baik itu nahwu maupun shorof, maka dia akan cenderung merasa bosan dan terkesan bahasa Arab itu ribet dan susah untuk dipahami. Hal ini terjadi karena murid tersebut belum dapat mempraktikkan kaedah-kaedah yang dipelajarinya tersebut karena sedikitnya kosakata yang dia ketahui sehingga ini menjadikan dia bingung akan fungsi dan penerapan kaedah tersebut. Dan sejatinya orang yang mempelajari suatu bahasa adalah orang yang mempelajari keterampilan-keterampilan bahasa tersebut, dan keterampilan tersebut dapat dikuasai dengan memperbanyak latihan dan praktik, bukan dengan menghafal kaedah bahasa tersebut.

Adapun jika seorang murid memulai pembelajaran bahasa Arabnya dengan mempelajari hiwar (percakapan) bahasa Arab terlebih dahulu, maka pembelajaran tersebut akan cenderung mengasyikkan karena apa yang dipelajari oleh si murid langsung dapat dipraktikkan dan digunakan ketika berbicara bahasa Arab, sehingga dengan demikian murid pun akan merasa  bahasa Arab itu mudah dan menyenangkan. Belajar hiwar bukan berarti tidak memperhatikan qawa’id (tata bahasa / kaedah), karena dalam mempelajari hiwar, si murid cukup mengikuti pola kalimat yang ada pada hiwar yang tersedia pada kitab, sehingga dengan demikian murid dapat berbicara bahasa Arab sesuai qawa’id, meskipun dia belum mempelajari teori kaedah nahwu dan shorof.

Sebenarnya tahapan mempelajari bahasa Arab itu kurang lebih sama dengan tahapan dalam mempelajari bahasa ibu. Coba perhatikan bagaimana seorang ibu mengajarkan anaknya suatu bahasa, apakah ibu tersebut langsung mengajarkan kaedah? jawabannya tentu tidak!. Seorang ibu pastinya akan mengajarkan anaknya bahasa dengan cara mengajak langsung si anak berbicara dengan percakapan-percakapan yang sederhana, dengan demikian anak akan berusaha mendengar dan memahami perkataan ibunya berdasarkan gerak-gerik si ibu, dan setelah itu si anak mulai mengikuti perkataan ibunya sedikit demi sedikit, sehingga si anak pun akan lancar dan menguasai bahasa ibunya di kemudian hari.

Di sini perlu dipahami bahwa tujuan mempelajari kaedah bahasa Arab, baik itu ilmu nahwu maupun ilmu shorof, adalah untuk meminimalisir kesalahan yang mungkin terjadi ketika berbicara bahasa Arab. Oleh karena itu, merupakan kesalahan besar dalam mempelajari bahasa Arab adalah ketika seseorang langsung fokus mempelajari ilmu nahwu dan shorof sementara dia belum mampu berbicara bahasa Arab, bahkan untuk percakapan yang sederhana sekali pun. Bagaikan orang yang mau nempel ban yang bocor, sementara bocornya tidak ada atau bahkan bannya tidak ada, jadi apa yang mau ditempel?!.

Setelah seorang murid mempelajari percakapan-percakapan bahasa Arab, barulah dia mempelajari sedikit demi sedikit kaedah nahwu dan shorof yang sifatnya terapan, bukan sebatas teori. Jika si murid tersebut telah lancar berbicara bahasa Arab dan juga telah mampu mempraktikkan kaedah-kaedah yang telah dia pelajari, maka barulah si murid menuju ke tahapan mempelajari nahwu dan shorof secara teori. Begitulah gambaran umum dari tahapan-tahapan yang semestinya dilalui oleh murid dalam mempelajari bahasa Arab.

Nah, kesimpulannya adalah ketika seseorang ingin mempelajari bahasa Arab maka hendaklah dimulai dengan mempelajari keterampilan berbahasa Arab terlebih dahulu, khiususnya keterampilan berbicara, tanpa harus mendalami ilmu nahwu dan shorof di awal-awal pembelajaran, karena ilmu nahwu dan shorof itu sejatinya dipelajari untuk memperbaiki bahasa Arab yang dimiliki oleh orang tersebut, sehingga dengan demikian hendaknya kita menempatkan pembelajaran kaedah tersebut pada tahap setelah si murid memiliki keterampilan berbicara bahasa Arab yang cukup baik.

Demikianlah postingan lisanaraby.id kali ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua, terkhususnya bagi teman-teman para penuntut ilmu dan pecinta bahasa Arab.

0 komentar untuk “Belajar Bahasa Arab, Kaedah Atau Percakapan Duluan?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ask ChatGPT
Set ChatGPT API key
Find your Secret API key in your ChatGPT User settings and paste it here to connect ChatGPT with your Tutor LMS website.
Scroll to Top